Rasanya semua pecinta musik rock/metal, terutama penggemar aliran progressive rock mengenal band Dream Theater. Band beraliran metal njlimet dengan kemampuan skill tingkat dewa para personilnya, penuh improvisasi ribuan note dari awal hingga akhir yang biasanya hanya mampu dinikmati para dosen-dosen atau pengamat musik serius.

Dan baru-baru ini salah satu personinya, Jordan Rudess, sang kibordis mengumumkan untuk tour solo dengan tajuk “Bach to Rock – A Musician Journey”. Creative Disc mendapat kehormatan sebagai media dari Indonesia untuk meliput konser yang diadakan oleh LAMC Productions ini. Saya yang ditunjuk, agak kaget ketika ditawari. Ragu-ragu dan agak malas sempat terbersit. Wong saya terus terang belum pernah nonton konser Dream Theater sekalipun, apalagi ini hanya sebuah resital piano dari satu personilnya. Apa yang harus saya tulis? Baca judul konsernya saja rasanya sudah rumit duluan. Tapi dengan bermodal nekat dan rasa penasaran yang tinggi, saya iyakan tawaran ini.

So be it. Senin petang 19 November, saya tiba agak awal di UCC Theater, NUS Singapura. Tak seperti konser-konser rock/metal yang pernah saya kunjungi. Tak ada gerombolan pria gondrong berbaju hitam, tak ada candaan bising & tawa lepas dari para penonton di lobi. Yang saya saksikan, hanya beberapa gelintir bule-bule tua, berkemeja, duduk menunggu sopan, menjinjing guitar & violin case, berbincang-bincang musik dari partitur yang mereka bawa. Dan beberapa gelintir anak-anak muda berkaos Dream Theater. Rasanya seperti di dunia yang berbeda.

7.30 petang, pintu menuju concert hall dibuka. Diatas panggung yang terbilang sangat sederhana, hanya terdapat sebuah grand piano berlatar belakang korden cokelat tua dan sebuah iPad yang diletakkan diatas serupa podium mini. Tak ada set-up keyboard & synthesizer bertumpuk-tumpuk seperti yang lumrah dalam konser Dream Theater.

Pukul 8 tepat, sang maestro muncul dari balik panggung disambut riuh tepuk tangan penonton dan langsung dibuka dengan permainan apik “State of Grace” dari “Liquid Tension Experiment (LTE)”, band yang didirikan Jordan Rudess pada tahun 1997.

Hal yang patut diacungi jempol malam itu adalah konsep konser itu sendiri yang dibingkai sebagai sebuah storytelling. Dan mungkin banyak yang baru menyadari bahwa selain sebagai seorang virtuoso, Jordan juga ternyata berbakat sebagai seorang storyteller. Dengan humble dan santainya, ia bercerita dari awal perkenalannya dengan instrumen piano. Dan lagu pertama yang ia mainkan di piano? “Twinkle-Twinkle Little Star”. Seiring dengan tawa penonton, lagu indah tersebut pun mengalun di jemarinya. Ceria di awal seperti yang kita tahu, dan kemudian bergelora penuh agresi ala progressive.

Cerita demi cerita pun mengalir. Hangat, penuh canda & keakraban. Rupanya sosok seperti inilah sang maestro jika tidak sedang dalam wahana Dream Theater. Mulai cerita dari lagu pertama yang ia ciptakan tatkala berusia 13 tahun, berjudul “My Generation”, bagaimana ia terpilih menjadi bintang iklan plester Johnson & Johnson di usia 14 (bisa dicek di YouTube), keluar masuk sekolah musik, bermain di pub, bar, hotel, mendirikan band LTE, hingga keputusannya bergabung di Dream Theater, diajak Mike Portnoy.

Gelar sebagai “The Best Keyboardist of All Time” pun dibuktikan malam itu. Skilful, penuh pesona memainkan setiap lagu dalam bingkai storytelling perjalanan hidupnya. Termasuk pula interpretasi lagu-lagu dari idolanya yang mempengaruhi kariernya, seperti Pink Floyd, Genesis dan King Crimson.

Satu momen yang paling menyentuh saya pribadi, ketika ia mengenang sosok almarhum David Bowie. Saat itu ia dilibatkan membantu album David Bowie di tahun 2002. Dan mengalun lah lagu legendaris “Space Oddity”. Haru dan penuh khidmat.

Tak terasa dua jam berlalu. “The Dance of Eternity” milik Dream Theater dimainkan sebagai pamungkas. Setelah sebelumnya ia mendemonstrasikan “GeoShred”, sebuah instrumen synthesizer canggih dalam bentuk apps hasil pengembangan perusahaan miliknya, Wizdom Music.

Dan penonton baru benar-benar beranjak dari kursinya ketika lampu hall menyala, setelah encore “Chopsticks” dimainkan. Saya pun tersenyum-senyum dalam perjalanan pulang. Apa yang saya khawatirkan di awal konser ternyata berputar 180 derajat. Tanpa tata panggung dan lighting spektakuler, tanpa laser, tanpa pyrotechnic, namun mampu meninggalkan kesan mendalam. Inilah pertunjukan seorang virtuoso sejati, pikir saya.

Menghentak seperti sebuah kabaret, atau nuansa dalam saloon koboi, kadang ceria layaknya sebuah sirkus, namun seringkali serasa diseret kedalam sebuah tornado puting beliung. Terima kasih Jordan Rudess, semoga masih ada kesempatan untuk menyaksikan konser-konser berikutnya bersama John Petrucci , LTE atau Dream Theater!

Text: Wisnu H. Yudhanto, w1snu.com
Photo: Aloysius Lim.
Special thanks to LAMC Productions